Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2018

ESAI PUISI: Menuaikan Kewajiban seperti Mengisi TekaTeki Silang


Menuaikan Kewajiban seperti Mengisi TekaTeki Silang



Kehidupan memang penuh misteri, tidak akan pernah ada yang tahu apa yang "akan terjadi". Namun manusia begitu sibuk meraba dan meramalkan bahkan ada yang nekat pergi ke orang pintar hanya untuk mengetahui “masa depan”  atau sesuatu yang akan  terjadi tersebut. Bahkan ada yang percaya dengan ramalan perbintangan—hal yang termutakhir masa kini, jika sebuah majalah, koran atau media lain mempublikasikannya, manusia akan sibuk menbacanya lalu mengeratkaitkan dengan kehidupan yang akan datang tersebut. Hal ini sudah menjadi sebuah kelaziman, meskipun dalam Islam diharamkan.  Dan entah mengapa begitu mudahnya kita—manusia—terpedaya.

Ramalan dalam menjadi trend masa kini, mungkin hal ini disebabkan bahwa manusia begitu tergesa-gesa ingin mengetahui apa yang seharusnya belum waktunya, untuk jaga-jaga, mungkin begitu. Namun yang namanya rahasia Allah SWT, tetaplah menjadi rahasia dan jika Allah telah menetapkannya maka tidak akan ada yang mampu mencegahnya. Begitu pula sebaliknya.

Manusia juga tidak pernah puas akan apa yang telah diraihnya selama ini, selalu ingin lebih dan lebih. Sebab nafsu selalu saja menjadi lawan yang paling berbahaya. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sekarang ini tentang kehidupan yang bermisteri (takdir) puisi pun akan menjadi tempat untuk mengabadikannya. Salah satunya adalah puisi berikut. Puisi yang memetaforakan kehidupan sebagai teka-teki silang, yang berisi kotak-kotak kosong, tegak lurus dan harus diisi.


Silang Kata Kehidupan


han...!
kehidupan yang kulalui umpama
mengisi teka-teki silang kata
mencari huruf-huruf diri
untuk kupenuhi petak-petak
melintang dan menegak

han...!
pada petak-petak pertemuan
melintang dan menegak itu
aku harus mencari sepuntung abjad keramat
untuk kuhidupkan jalan mengisi petak-petak yang menanti
meneruskan kembaraku yang kosong
mengisi dengan
huruf-huruf yang kadang-kadang
aku sendiri tidak pernah mengerti

han...!
jalan semakin panjang
digit-digit hidup kian meningkat
sementara petak-petak kosong masih menanti
aku di laluan dalam pencarian diri
destinasi yang kian hampir!
hanya doa kudus
padaMu tuhan...

han...!
sesungguhnya benar...
kehidupan adalah umpama
sebuah perjalanan yang sementara
dalam masa yang sama
kita harus mengisi petak-petak kosong
dalam teka-teki silang kata
yang belum tentu dapat kau siapkan

han...!
begitulah adanya...
mahu kuulangi peringatan ini padamu
sekali lagi...?

15.6.10

Teka-teki silang yang kita kenal adalah ajang asah otak, dimana kita dituntut untuk mampu mengisi kekosongank kotak-kotaknya. Jawaban sudah tersedia namun semua itu tergantung kepada kita, seberapa kaya kosakata yang kita miliki. Begitu pula kehidupan, sebenarnya kita mampu mengisi setiap kekosongan yang ada dalam hidup kita, namun hal itu tentu saja sesuai dengan pengalaman dan kemampuan kita masing-masing. Mungkin yang telah kenyang makan garam, kotakkotak kosong yang tegak lurus itu akan terisi hampir penuh, begitu sebaliknya. Juga akan ada tingkatan keaulitan yang dihadapi, anakanak akan beda dengan orang dewasa.

Lantas dengan apakah kita harus mengisi kekosongan yang ada dalam kehidupan kita? Tentu saja jawabnya adalah kewajiban kita sebagai manusia. Kewajiban manusia itu sendirilah yang dijelaskan dalam puisi ini. Kotak-kotak melintang dan menegak di sini melambangkan hubungan manusia, yaitu  manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia  serta manusia dengan alam sekitar.

Puisi ini secara harfiah terdiri atas lima bait yang masing-masing diawali dengan kata berelipsis "han...!". Berupa monolog yang ditujukan kepada lirik "han". Siapakah "han" yang dimaksud penulis dalam puisi ini. Beberapa kemungkinan berkecamuk di benak saya, tetapi hal yang paling mungkin adalah panggilan untuk orang yang tersayang yaitu manusia. Sebab jika menilik judulnya yang memiliki persilangan kehidupan dan yang paling runyam adalah manusia.

Pada bait pertama, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, puisi ini memang mengacu kepada  kehidupan yang seperti teka-teki dan manusia diwajibkan untuk mengisi kekosongan tersebut, baik melintang maupun menegak. Dalam bait ini menunjukan adanya usaha, yang merupakan kewajiban pertama manusia.

Bait kedua menjelaskan bahwa diantara pertanyaan atau peristiwa yang kita lalui, akan ada kaitannya bahkan berkaitan satu sama lain, sehingga kita harus pandai-pandai memilih dan memilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu pula perjalanan hidup kita, kadang kita berada dalam sebuah persimpangan yang dimana jalan lain pernah kita lewati, dan kita menghadapi masalah atau peristiwa serupa maka kita akan mengambil cara yang dulu kita gunakan untuk menyelesaikan masalah kita saat ini. Dan sememangnya kehidupan selalu berkaitan peristiwanya dan selalu berulangulang jika saja kita mampu mengkilasbalikkan, namun kadang kita sebagai manusia punya penyakit "lupa".

Pada bait ketiga, disini menjelaskan bahwa selain kita mampu berusaha untuk mengisi, kita juga harus berdoa, yang merupakan kewajiban manusia disamping berusaha. Sebab jalan kehidupan selalu panjang dan setiap saat bisa berhenti sesuai kehendak Tuhan.

Bait selanjutnya menyatakan bahwa kehidupan di dunia adalah sementara, dan memang demikian adanya, bahkan diibaratkan hidup di dunia itu hanya singgah untuk minum (mampir ngombe; Bahasa Jawa). Sehingga apapun yang terjadi kita harus selalu berusaha untuk mengisi kekosongan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Seperti kata bijak, berusahalah seperti engkau akan hidup selamanya dan berdoalah seperti engkau akan mati esok hari.

Bait terakhir berupa penyerahan diri. Yaitu setelah kita berusaha, berdoa dan kewajiban manusia yang terakhir adalah tawakal atau berserah diri. Di sinilah akhir dari segalanya, takdir Tuhan berlaku. Jika manusia telah berusaha sekuat tenaga, berdoa sekhusyuk mungkin namun Kuasa dan Kehendak Tuhanlah yang menentukan segalanya.

Inilah silang kata kehidupan atau perkara yang dialami manusia untuk menentukan kehidupan. Berusaha, berdoa dan tawakal itu wajib meskipun hasilnya belum kita ketahui secara mutlak.

Akan tetapi apakah isi dari elipsis di bait terakhir baris kedua dan terkhir? Di sini saya sempat menyerngitkan dahi, sebab mungkin artinya tidak akan sama dengan elipsiselipsis yang di awal setiap bait. Jika elipsis tersebut mengacu kepada sesuatu yang tidak bisa dilisankan, apakah hal itu? mungkin elipsis ini menurut kaca mata saya bisa dihilangkan, sebab tidak ada gunanya melainkan hanya untul mempermanis saja.

Secara keseluruhan puisi ini mengingatkan kita tentang kewajiban kita sebagai manusia, baik itu individu dan sosial. Baik itu kewajiban kepada sesama, alam maupun Tuhan.


NB: ini esai lama, lupa tidak menuliskan siapa yang punya puisinya. Apresiasi di salah satu grup puisi online yang sekarang menjadi GAKSA.

Minggu, 16 Juni 2013

Esai Apresiatif Puisi Fazis Ar

Menuaikan Kewajiban seperti Mengisi TekaTeki Silang



Kehidupan memang penuh misteri, tidak akan pernah ada yang tahu apa yang "akan terjadi". Namun manusia begitu sibuk meraba dan meramalkan bahkan ada yang nekat pergi ke orang pintar hanya untuk mengetahui “masa depan”  atau sesuatu yang akan  terjadi tersebut. Bahkan ada yang percaya dengan ramalan perbintangan—hal yang termutakhir masa kini, jika sebuah majalah, koran atau media lain mempublikasikannya, manusia akan sibuk menbacanya lalu mengeratkaitkan dengan kehidupan yang akan datang tersebut. Hal ini sudah menjadi sebuah kelaziman, meskipun dalam Islam diharamkan.  Dan entah mengapa begitu mudahnya kita—manusia—terpedaya.

Ramalan dalam menjadi trend masa kini, mungkin hal ini disebabkan bahwa manusia begitu tergesa-gesa ingin mengetahui apa yang seharusnya belum waktunya, untuk jaga-jaga, mungkin begitu. Namun yang namanya rahasia Allah SWT, tetaplah menjadi rahasia dan jika Allah telah menetapkannya maka tidak akan ada yang mampu mencegahnya. Begitu pula sebaliknya.

Manusia juga tidak pernah puas akan apa yang telah diraihnya selama ini, selalu ingin lebih dan lebih. Sebab nafsu selalu saja menjadi lawan yang paling berbahaya. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sekarang ini tentang kehidupan yang bermisteri (takdir) puisi pun akan menjadi tempat untuk mengabadikannya. Salah satunya adalah puisi berikut. Puisi yang memetaforakan kehidupan sebagai teka-teki silang, yang berisi kotak-kotak kosong, tegak lurus dan harus diisi.


Silang Kata Kehidupan


han...!
kehidupan yang kulalui umpama
mengisi teka-teki silang kata
mencari huruf-huruf diri
untuk kupenuhi petak-petak
melintang dan menegak

han...!
pada petak-petak pertemuan
melintang dan menegak itu
aku harus mencari sepuntung abjad keramat
untuk kuhidupkan jalan mengisi petak-petak yang menanti
meneruskan kembaraku yang kosong
mengisi dengan
huruf-huruf yang kadang-kadang
aku sendiri tidak pernah mengerti

han...!
jalan semakin panjang
digit-digit hidup kian meningkat
sementara petak-petak kosong masih menanti
aku di laluan dalam pencarian diri
destinasi yang kian hampir!
hanya doa kudus
padaMu tuhan...

han...!
sesungguhnya benar...
kehidupan adalah umpama
sebuah perjalanan yang sementara
dalam masa yang sama
kita harus mengisi petak-petak kosong
dalam teka-teki silang kata
yang belum tentu dapat kau siapkan

han...!
begitulah adanya...
mahu kuulangi peringatan ini padamu
sekali lagi...?

15.6.10

Teka-teki silang yang kita kenal adalah ajang asah otak, dimana kita dituntut untuk mampu mengisi kekosongank kotak-kotaknya. Jawaban sudah tersedia namun semua itu tergantung kepada kita, seberapa kaya kosakata yang kita miliki. Begitu pula kehidupan, sebenarnya kita mampu mengisi setiap kekosongan yang ada dalam hidup kita, namun hal itu tentu saja sesuai dengan pengalaman dan kemampuan kita masing-masing. Mungkin yang telah kenyang makan garam, kotakkotak kosong yang tegak lurus itu akan terisi hampir penuh, begitu sebaliknya. Juga akan ada tingkatan keaulitan yang dihadapi, anakanak akan beda dengan orang dewasa.

Lantas dengan apakah kita harus mengisi kekosongan yang ada dalam kehidupan kita? Tentu saja jawabnya adalah kewajiban kita sebagai manusia. Kewajiban manusia itu sendirilah yang dijelaskan dalam puisi ini. Kotak-kotak melintang dan menegak di sini melambangkan hubungan manusia, yaitu  manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia  serta manusia dengan alam sekitar.

Puisi ini secara harfiah terdiri atas lima bait yang masing-masing diawali dengan kata berelipsis "han...!". Berupa monolog yang ditujukan kepada lirik "han". Siapakah "han" yang dimaksud penulis dalam puisi ini. Beberapa kemungkinan berkecamuk di benak saya, tetapi hal yang paling mungkin adalah panggilan untuk orang yang tersayang yaitu manusia. Sebab jika menilik judulnya yang memiliki persilangan kehidupan dan yang paling runyam adalah manusia.

Pada bait pertama, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, puisi ini memang mengacu kepada  kehidupan yang seperti teka-teki dan manusia diwajibkan untuk mengisi kekosongan tersebut, baik melintang maupun menegak. Dalam bait ini menunjukan adanya usaha, yang merupakan kewajiban pertama manusia.

Bait kedua menjelaskan bahwa diantara pertanyaan atau peristiwa yang kita lalui, akan ada kaitannya bahkan berkaitan satu sama lain, sehingga kita harus pandai-pandai memilih dan memilah, mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu pula perjalanan hidup kita, kadang kita berada dalam sebuah persimpangan yang dimana jalan lain pernah kita lewati, dan kita menghadapi masalah atau peristiwa serupa maka kita akan mengambil cara yang dulu kita gunakan untuk menyelesaikan masalah kita saat ini. Dan sememangnya kehidupan selalu berkaitan peristiwanya dan selalu berulangulang jika saja kita mampu mengkilasbalikkan, namun kadang kita sebagai manusia punya penyakit "lupa".

Pada bait ketiga, disini menjelaskan bahwa selain kita mampu berusaha untuk mengisi, kita juga harus berdoa, yang merupakan kewajiban manusia disamping berusaha. Sebab jalan kehidupan selalu panjang dan setiap saat bisa berhenti sesuai kehendak Tuhan.

Bait selanjutnya menyatakan bahwa kehidupan di dunia adalah sementara, dan memang demikian adanya, bahkan diibaratkan hidup di dunia itu hanya singgah untuk minum (mampir ngombe; Bahasa Jawa). Sehingga apapun yang terjadi kita harus selalu berusaha untuk mengisi kekosongan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Seperti kata bijak, berusahalah seperti engkau akan hidup selamanya dan berdoalah seperti engkau akan mati esok hari.

Bait terakhir berupa penyerahan diri. Yaitu setelah kita berusaha, berdoa dan kewajiban manusia yang terakhir adalah tawakal atau berserah diri. Di sinilah akhir dari segalanya, takdir Tuhan berlaku. Jika manusia telah berusaha sekuat tenaga, berdoa sekhusyuk mungkin namun Kuasa dan Kehendak Tuhanlah yang menentukan segalanya.

Inilah silang kata kehidupan atau perkara yang dialami manusia untuk menentukan kehidupan. Berusaha, berdoa dan tawakal itu wajib meskipun hasilnya belum kita ketahui secara mutlak.

Akan tetapi apakah isi dari elipsis di bait terakhir baris kedua dan terkhir? Di sini saya sempat menyerngitkan dahi, sebab mungkin artinya tidak akan sama dengan elipsiselipsis yang di awal setiap bait. Jika elipsis tersebut mengacu kepada sesuatu yang tidak bisa dilisankan, apakah hal itu? mungkin elipsis ini menurut kaca mata saya bisa dihilangkan, sebab tidak ada gunanya melainkan hanya untul mempermanis saja.

Secara keseluruhan puisi ini mengingatkan kita tentang kewajiban kita sebagai manusia, baik itu individu dan sosial. Baik itu kewajiban kepada sesama, alam maupun Tuhan, agar tercipta keselarasan dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Kamis, 15 November 2012

ESAI PUISI



MENEMBUS MISTERI PUISI WIDYA
: Menyibak Hubungan Manusia


Dunia puisi memang kadang membingungkan, tetapi asyik untuk ditelisik sebab setiap puisi selalu mempunyai daya tarik tersendiri, baik itu puisi terang, remang bahkan yang gelap sekalipun. Sebagai seorang apresiator seharusnya tidak perlu takut tentang benar atau tidaknya apresiasi tentang puisi itu. Sebab puisi tidak melulu menuju kepada satu titik, melainkan bisa jadi penafsiran pembaca satu dengan lain berbeda-beda.

Dalam mengapresiasi puisi seorang apresiator akan mencari titik-titik tertentu yang menjadi  kunci utama puisi yang diapresiasinya. Jika telah menemukan kunci ini maka tidak akan ada istilah puisi terang, remang dan gelap. Tinggal bagaimana selanjutnya apresiator itu mengaitkannya dengan seluruh elemen kehidupan.

Salah satu contoh puisi terang.

Ini bicara blak-blakan saja, bang
Buka kartu tampak tampang
Sehinga semua jelas membayang
Monoloyalitas kami sebenarnya pada uang

Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara
Koyak tampak terkubak semua
Sehingga buat apa basi dan basa
Sila kami Keuangan Yang Maha Esa

Jangan sungkan buat apa yah-payah
Analisa psikis toh cuma kuasi ilmiah
Tak usahlah sah-susah
Ideologiku begitu jelas ideologi rupiah

Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan
Setiap jeroan berjajar kelihatan
Sehingga jelas sebagai keseluruhan
Asas tunggalku memang keserakahan.

1998 (SYAIR EMPAT KARTU DI TANGAN, MAJOI hal. 28)

Puisi Taufik Ismail ini adalah puisi terang, sebab apa yang dimaksud oleh penyair dapat langsung diketahui tanpa harus bersusah payah mencari kunci dan kaitannya. Kunci utama puisi ini adalah kata “uang” yang kemudian dijabarkan atau dikaitkan sedemikian rupa dengan keadaan atau hal-hal yang berbeda sehingga tercipta seolah-olah membentuk suatu pemikiran yang berbeda. Namun pada hakikatnya masih tetap kembali kepada kunci utama.

Berbeda lagi dengan puisi di bawah ini.

HUJAN SEPTEMBER

/1/
lantaran debu nempel di tangkai dan lembarlembar daun
kuangkat selang sebelum matahari bangkit dari rasa sakit

kemarau meruang dalam kamar jiwa kuncup bunga
berguguran sebelum jadi buah

satusatu kupungut tetes hujan
menyiram dahaga jiwa

/2/
mencintai ranah ini
serupa membalut luka bernanah

teriris oleh sayatan sejarah
yang dibelah

bendera setengah tiang tertunduk gamang
penuh genang kenang cahaya kunangkunang

/3/
"pa, mari kubantu punguti daun dan bunga"
nurani tersenyum tawar, terasa benarbenar hambar

"inikah makam pahlawan itu pa?"

debu menutup segala pandang
tubuhku mengabu dan mengejang

september 2011
(SKETSA SAJAK DIMAS ARIKA MIHARJA, 2012)

Puisi yang ini membuka gerbang remang-remang sehingga dalam pengapresiasiannya harus mengetahui seluk-beluk kunci utama yang ada dalam puisi itu. Penggalian puisi remang-remang juga memerlukan jalur alternatif tentang pengetahuan situasi dan kondisi pada puisi bisa berupa tempat, waktu atau kejadian-kejadian yang mengikuti kunci utama. Bedanya dengan puisi terang adalah dimana saat puisi terang meruncing ke satu titik sedangkan puisi remang-remang bermula dari satu titik.


Lalu bagaimana nasib puisi yang ditulis oleh Widya Arternia ini? Masuk dalam kategori manakah?


Proklamator Tangis

Ketika pena pertama bertinta puisi
menorehkan kata-kata rapuh
yang meyakini kesendirian
adalah sebuah jawaban
dari pengembaraan
jemari-jemari letih
maka terlahirlah
cermin muda
berembun
air mata

Ketika puisi merasa senasib padaku
bersedih deru wanita dipangkuan
melunglai sebagai kekasih hati
mengisyaratkan pengorbanan
perjalanan liku tanpa asa
maka bebas batin ini
meradang larutan
asin menetes
menghiasi
kertas
putih

Ketika puisi jadi pencerah harapan
lalangbuana kalbu pendosaMu
bersujud cari paduan jiwa
yang Kau sembunyikan
sebagai misteri hidup
di benak rangkaian
makna renungan
sepih kesunyian
awali sebentuk
bait pendasar
baris goyah
emosi diksi
menajam
hasrat
bebas
untuk
nulis
aku

Oleh: Widya
Kuta,6/8/2012

Puisi ini tampil dengan tiphografi meruncing ke bawah, mirip segitiga siku-siku terbalik. Dari ketiga bait tersebut ukuran segitiganya berbeda-beda—bait pertama tersusun dari 10 larik, bait kedua 11 larik dan bait ketiga 18 larik. Jumlah larik dalam bait ini sendiri memiliki makna yang tersendiri, pada bait pertama terdapat sepuluh larik dan angka 10 mewakili perintah Tuhan terhadap hamba-Nya. Sepuluh perintah ini berasal dari kitab Taurat yang diturunkan kepada  Nabi Musa AS dan dikenal sebagai “10 Hukum Taurat.” Sampai saat ini semua agama menganjurkan umatnya untuk menjalankan sepuluh perintah tersebut. (Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Sepuluh_Perintah_Allah).

Pada bait kedua mempunyai sebelas larik dan angka 11 itu sendiri mempunyai peran penting dalam berbagai bidang kehidupan, misal dalam bidang  matematika, sains, agama, musik, olahraga dan hal-hal lainnya. Angka 11 ini pula bisa menunjuk kepada kepastian-kepastian yang berluku( http://en.wikipedia.org/wiki/11_%28number%29).

Bait terakhir ada delapanbelas larik dan  delapanbelas adalah jumlah kitab dari karya sastra kuno Mahabarata yang ditulis oleh Begawan Vyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari. Jadi jika dikaitkan dengan kebudayaan, maka angka delapanbelas adalah angka akar peradapan kerajaan Hindu di Indonesia. (Wikipedia, Kitab Mahabarata)

Namun demikian bagaimana dengan isi puisi, bisakah menembus akar dari kisah di sebalik tersusunnya jumlah larik dalam bait tersebut? Di sini saya mencoba mengupas dengan segala keterbatasan dan ingin menentukan puisi ini masuk jenis mana?

“PROKLAMATOR TANGIS” adalah judul yang unik dan sepertinya dalam metafora Widya ingin mengungkapkan perpaduan antara jiwa semangat dan  jiwa kerapuhan. Sebab dalam kata “proklamator” itu sendiri berarti orang yang memberitahukan kepada umum/khalayak secara resmi, biasanya proklamator itu mempunyai semangat yang tinggi serta mempunyai pengaruh yang besar terhadap lingkungannya. Sedangkan kata “tangis” ini lebih cenderung mendekati lemah atau rapuh dibanding mendekati kebahagiaan atau haru, dan biasanya tangis itu lebih cenderung mendekati wanita. Sehingga bisa mengambil kesimpulan bahwa judul ini mengungkapkan tentang semangat dan kelemahan jiwa dalam berbagai kehidupan, sebab dalam diri manusia pasti terjadi hal tersebut. Di satu sisi ada semangat yang membara dan di sisi lain ada ketakutan-ketakutan yang menjegal semangat itu sendiri.

Dalam bait yang pertama tertulis,
Ketika pena pertama bertinta puisi
menorehkan kata-kata rapuh
yang meyakini kesendirian
adalah sebuah jawaban
dari pengembaraan
jemari-jemari letih
maka terlahirlah
cermin muda
berembun
air mata

dan seperti penjelasan sebelumnya tentang kaitan jumlah bait dan angka 10, dalam bait ini ada sebuah penjelasan tentang kewajiban seorang penyair (penyair adalah pemilik pena bertinta puisi). Bahwa seorang penyair yang baik adalah seorang penyair yang mampu berdiri sendiri dalam kembara katanya. Juga harus mampu mengajari penyair pemula yang saat ini masih belum mengerti apa itu sebenarnya tujuan seorang penyair menulis puisi meskipun harus menuai kepedihan yang mendalam (air mata).

Pada bait kedua,
Ketika puisi merasa senasib padaku
bersedih deru wanita dipangkuan
melunglai sebagai kekasih hati
mengisyaratkan pengorbanan
perjalanan liku tanpa asa
maka bebas batin ini
meradang larutan
asin menetes
menghiasi
kertas
putih
Pada kaca mata bacaku, terlihat ada takdir yang pasti dalam bait ini yaitu penciptaan pria dan wanita sebagai pasangan. Jika meraka telah berjodoh maka sehidup semati mereka akan menjaga kesucian ikatan yang telah dibangun dalam rumah tangga. Meskipun tak jarang juga halangan dan rintangan itu selalu ada.

Selanjutnya bait terakhir yang berbunyi, 
Ketika puisi jadi pencerah harapan
lalangbuana kalbu pendosaMu
bersujud cari paduan jiwa
yang Kau sembunyikan
sebagai misteri hidup
di benak rangkaian
makna renungan
sepih kesunyian
awali sebentuk
bait pendasar
baris goyah
emosi diksi
menajam
hasrat
bebas
untuk
nulis
aku
dalam bait ini ada penjelasan tentang taubat kepada Tuhan dan juga tentang penyerahan diri kepada Tuhan. Pengakuan aku lirik tentang tujuannya dalam mennuliskan puisi (ketika puisi jadi pencerah harapan). Dalam larik pembuka itu Widya mengatakan bahwa puisi bisa menjadi pencerah bila dituliskan dengan hati dan tujuan hanya kepada Tuhan.

Namun hal itu juga tidak terlepas dari hubungan manusia dengan Tuhan. Semua agama pasti ada patokan tersendiri yang mengatur seluk beluk antara hubungan manusia dengan Tuhan, Islam telah diatur sedemikian rupa dan detail dalam AlQuran, Kristen dalam Injil, Budha dalam Tripitaka, serta Hindu dalam kitab Weda/Veda.

Lalu apa hubungan Weda/Veda dan Mahabarata—sebab dalam puisi ini mengacu pada angka 18 dan 18 merupakan jumlah kitab dari Mahabarata? Di dalam Chandogya Upanisad  (VII.1.2, dan VII.2.1) dinyatakan bahwa Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan Purana (kitab-kitab kuno) adalah Veda yang ke-5 (itihasa-puranam pañcamam vedanam vedam), dan mengingat Mahabharata adalah salah satu dari kitab Itihasa, maka Bhagavadgita dengan sendirinya merupakan Veda yang ke-5, di samping kitab Catur Veda  (Rigveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda) yang dikodifikasikan terlebih dahulu. (Dikutip dari Bhagavadgita—Ajaran Moralitas, Kemanusiaan dan Kerukunan Umat Beragama, http://www.parisada.org/index.php?Itemid=29&id=501&option=com_content&task=view).

Menjawab pertanyaan, masuk bagian puisi manakah puisi ini? Bagi saya, puisi ini adalah puisi remang-remang menuju terang, sebab secara kasat kita akan tahu bagaimana maksud dari puisi tersebut, namun di samping itu masih ada maksud yang tersembunyi dari puisi tersebut.

Secara keseluruhan puisi ini mengacu kepada hubungan yang diciptakan manusia yaitu hubungan manusia dengan manusia(baik dengan orang lain lain maupun dirinya sendiri), hubungan manusia dengan kekuatan alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Hal ini merupakan sebuah segitiga yang seharusnya samasisi, sebab hubungan-hubungan itu harus harmoni, selaras dan seimbang, agar tercipta kehidupan bahagia dunia akhirat. Namun puisi ini jika memakai tipografi semacam ini bagi saya kurang memenuhi, sebab memakai segitiga siku-siku. Kekurangan lain dari puisi ini adalah serasa patah dan berdiri sendiri setiap baitnya jika tidak bisa mengungkapkanapa yang sebenarnya ingin diangkat, lalu pemilihan judul juga tidak ada hubungan yang klop dengan isi puisi.


Esais,

Luluk Andrayani
Ma On Shan, November 15, 2012

Jumat, 24 Agustus 2012

PELAJARAN NYATA DALAM KEPENYAIRAN MAYA


PELAJARAN NYATA DALAM KEPENYAIRAN MAYA

Dalam era internetisasi ini semua menjadi serba instant dan  mudah sekali kita mendapatkannya. Tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak—cukup dengan membayar paket data kita dapat menikmati dunia secara gratis. Untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan pun kita cukup dengan satu kali klik sudah dapat menjangkau seluruh dunia. Seolah segalanya telah menjadi milik kita. Apa yang kita mau seolah kita menggenggam semuanya.

Hal ini tentu juga mempengaruhi dunia kepenyairan. Sebab terlalu mudahnya kita berkomunikasi lewat dunia internet, mengembangkan karya lewat dunia internet, telah muncul beberapa bahkan banyak manusia-manusia yang berbakat dalam dunia sastra.Memajang dan berargumentasi tentang  karyanya. Bahkan  mereka juga mendirikan sebuah kelompok atau komunitas-komunitas sastra. Komunitas-komunitas ini semakin lama semakin banyak layaknya laron musim penghujan.

Diantara sekian banyaknya komunitas yang berdiri di dunia maya ini ada sebagian yang memang diolah secara khusus oleh ahli sehingga menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi pemula-pemula yang betul-betul ingin belajar dan bisa menapakkan kakinya di dunia nyata. Namun untuk “menjadi” itu tidak akan mudah, akan banyak tantangan dan rintangan yang pasti dihadapi. Lalu apakah tantangan dan  rintangan yang kita hadapi itu jugamudah meskipun di dunia yang serba mudah dan serba bisa? Jawabannya tentu “tidak!” sebab yang bernama tantangan dan rintangan (khusus bagi yang serius) tidak akan pernah habis.

Sebagian orang yang hanya beranggapan bahwa dunia maya ini mudah, mereka akan cepat frustasi jika apa yang mereka inginkan tidak tercapai. Bahkan ada yang lebih gila lagi yaitu menunjukkan ketidak puasan secara berlebihan dan menjatuhkan lawan maya dengan cara menyebar “fitnah” atau berganti-ganti wajah agar tidak dikenali atau dengan seenaknya mengumbar kata dari kebun binatang sampai neraka jahanam pun dikeluarkan.

Namun karena dunia maya memang hanya selebar imaji dan serba mudah, maka apapun usaha yang dilakukan akan ketahuan dengan mudah juga. Ya ibaratnya sepandai-pandainya membungkus bangkai pasti akan tercium juga baunya. Tulisan tidak akan pernah bisa mennutupi sifat asli dari seseorang yang menuliskannya. Kata-kata adalah pikiran dan hati seseorang yang menuliskan. Kata-kata yang tertulis adalah cermin dari keseharian di dunia nyata. Bahkan dunia maya ini aan bisa menampakkan wujud asli dari orang yang mengendalikanya, sebab pikiranlah yang mendominasi kerja dunia maya.

Kembali kepada persoalan kepenyairan, puisi atau karya penyair adalah wujud dari paduan pikiran, hati dan kemauan yang dilandasi oleh seni. Sudah tentu dalam hal ini puisi adalah kata-kata perwakilan hati yang ingin disuarakan oleh seorang penyair tersebut. Si penyair ingin orang lain tahu apa yang dimaunya, namun karena di sini mengacu seni, maka akan ada teknik yang digunakan seorang untuk meyampaikannya melalui unsur seni dan caranya tersendiri. Penyair akan memadupadatkan kata-kata agar tercipta sebuah karya sederhana, unik dan padat, namun memiliki keindahan dan menjangkau pengertian luas. Namun hal ini, tidak ditemukan dalam kepenyairan maya, sebab dalam dunia maya yang ada hanya imajinasi mudah dan indah. Sehingga jiwa-jiwa akan memberontak jika mereka tidak menemukan kemudahan dan keindahan seperti angannya.

Kekecewaan yang ada dalam benak akan keluar lewat tulisan juga, terpampang di mana-mana, mengumpat dan menyumpah-serapahi teman-temannya seperti api yang menjilat dan melahap daun kering.Tak pelak menimbulkan kontra dan perseteruan. Lalu pergi meninggalkan lubang di dada dan kembali dengan wajah baru bertopengkan entah apa namanya. Inilah yang membawa mereka sehingga mendapatkan julukan penyair maya(t). Berkeliaran kesana-kemari tanpa punya matahati.

Tak pelak juga kita akan keracunan kata “sombong” atau “arogan” sehingga kita menjadi lupa diri, lupa kawan nahkan lupa daratan. Tidak bisa disalahkan tapi gampang menyalahka seolah kita yang paling benar. Tidak mau menerima nasihat tapi sok jadi penasihat. Tidak mau masukan atau kritikan tapi sok jadi kritikus. Padahal apa yang kita dapat di dunia maya itu berasal dari dunia nyata yang mereka bermurah hati untuk berbagi dengan kita.

Menilik pertikaian-pertikaian dan kesombongan yang terjadi di dunia maya ini, seorang penyair dari Bali yang biasa saya panggil Bli—Widya Sudyatmika, melukiskan perasaannya dalam sebuah puisi yang terkesan agak aneh—sememangnya Widya adalah penyair yang aneh menurut saya. Kegelapan diksi selalu memenuhi puisinya sehingga tampak sulit untuk dijelajahi. Pilihan kata yang selalu berbeda, suka semaunya sendiri dan lain dari yang lain adalah gaya puisi Widya. Kali ini Widya menuangkan kekesalan, kesakitan dan kemarahan bahkan keharuan dalam puisinya.

Raj A Rogan

Aku meludah api
jalan tangis terbakar
menyimpan bara di dada
maka aku meludah api

jari tetap lengket dengan minyak
tapi tak terbakar
maka api ludah
tak kubuang dengan tangan
atau jabat harapan

Aku meludah api
meski deras hujan mata
menatap derita memupuk
bisa tahan nondiri
jadi ini sakit
ciri ini ludahku
penanda lahan kaki
penopang linglung peraduan
yang lambat hati tiada lepuh

Aku meludah api
kemana saja
tak ada amati
di situ raga meledak
menahan sekumpulan kelenjar
yang enggan berkasih
dengan tangan
apalagi jemari

Aku meludah api
kebiasaanku
sakitku

Maya tanpa T,23/8/2012

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Widya memang selalu aneh, judul puisi ini dia buat aneh sehingga mirip dengan nama-nama Hindustan (India). Tetapi sebenarnya ini adalah bahasa Indonesia asli, yaitu RAJA dan AROGAN. Raja mempunyai kekuasaan dan arogan adalah sifat yang paling berkuasa atau pongah, di sini mempunyai hubungan yang kuat dalam hal menentukan atau menjatuhkan sesuatu yang bisa mempengaruhi orang lain atau publik. Namun arogan justru membuat kita sendiri yang terjatuh terjatuh. Namun dalam judul puisi ini, saya katakan kurang sampai meskipun dari segi lain ada kreatifitas yang bisa dikembangkan. Tapi sampai atau tidak sampai kepada pembaca iu adalah masalah si pembaca sendiri untuk menggali kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Menilik bait dan lariknya puisi ini mempunyai keunikan, seperti frase-frase patah tapi saling berhubungan. pada bait pertama dan kedua, entah apakah ini satu bait yang sebenarnya atau memang menjadi dua bait, sebab dalam bait selanjutnya selalu diawali dengan kata “Aku meludah api”.(Aku meludah api/jalan tangis terbakar/menyimpan bara di dada/maka aku meludah api//jari tetap lengket dengan minyak/tapi tak terbakar/maka api ludah/tak kubuang dengan tangan/atau jabat harapan. Metafora api adalah simbol dari semangat dan kemarahan, tetapi jika harus mengartikan dengan semangat, maka akan menyimpang jauh dari judul juga kata yang sebelumnya. Api di sini menunjukan kemarahan dan kemuakan si aku lirik dalam menghadapi sesuatu yang terjadi dalam hidupnya atau menghadapi perilaku seseorang yang di sebutnya sebagai “raja” dalam judul. Api bisa juga simbol dari kata-kata pedas dan tajam dari aku lirik.

Mungkin saat itu hal yang dirasakan aku lirik telah mencapai puncak kerawanan sehingga apa yang ada  hanyalah seperti api, panas dan mudah hangus terbakar, kebencian dan saling menjatuhkan. Tiada lagi kesedihan, kasih sayang dan penghargaan juga penghormatan terhadap sesama. Sehingga mau tidak mau si aku lirik harus melontarkan kata-kata yang bisa membakar atau membahayakan atau menyulut pertikaian.

Dan satu pesan yang dapat saya petik dari sini adalah jika emosi dan arogansi menyatu dalam benak kita maka pintu maaf dan harapan tidak lagi terbuka, baik di dunia nyata maupun dunia maya, Arogansi atau kesombongan adalah petaka yang harus disingkirkan cepar-cepat.

Lalu menyusul bait ketiga, Aku meludah api/meski deras hujan mata/menatap derita memupuk/bisa tahan nondiri/jadi ini sakit/ciri ini ludahku/penanda lahan kaki/penopang linglung peraduan/yang lambat hati tiada lepuh// . Kembali setelah aku lirik melepaskan emosinya, sekarang Widya menggambarkan aku lirik meratapi penderitaan yang mendalam  tapi siapa pun  tidak ada yang  peduli. Dan memang dalam dunia maya tidak akan pernah ada yang benar-benar peduli meskipun kita menjerit, mereka hanya akan menertawakan kita. Sebab memang dunia maya adalah tempat mencari hiburan atau kesenangan. Lalu jika mereka menemui hambatan, hal yang dilakukan adalah mengumpat dan menyumpah, tanpa peduli dengan hal itu banyak yang terluka. Tentu karena kesombongan maka manusia tanpa pernah bisa berpikir tentang sesama, seolah hanya ada diri mereka sendiri di dunia ini.

Lalu bait keempat dari puisi ini, Aku meludah api/kemana saja/tak ada amati/di situ raga/meledak/menahan sekumpulan kelenjar/yang enggan berkasih/dengan tangan
apalagi jemari//. Dalam bait ini Widya menggambarkan bahwa aku lirik melakukan pencarian peleraian dari kemarahan namun karena kesombongan dan keangkuhan aku lirik tidak menemukan apa-apa, masih tetap sama tidak ada yang mau peduli terhadap apa yang dia lakukan. Merupakan sebuah pelajaran, jika kita sombong maka apapun yang kita lakukan tidak berguna di mata orang lain.

Sebagai bait penutup Widya menuliskan, Aku meludah api/kebiasaanku/sakitku//. Penjelasan tiga larik ini sungguh unik, Widya menggambarkan bahwa melontarkan kata-kata pedas atau sejenisnya merupakan kebiasaan aku lirik sekaligus kesakitannya atau ketidakpuasannya.  

Dengan penjelasannya saya mengenai puisi ini dan pendahuluan mungkin seperti tidak ada kaitan namun dengan penanda akhit (Maya Tanpa T, 23 Agustus 2012) kita bisa mengambil kesimpulan, puisi ini dituliskan Widya untuk mengkritisi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dunia kepenyairan maya yang selalu penuh dinamika, penuh kesombongan, ingin diakui sebagai penyair, namun kita belum bisa mengukur baju yang sesuai dengan tubuh kita sendiri.

Sebagai pelajaran yang mendasar yaitu kita harus bisa menjauhkan diri dari sifat arogan (sombong) sebab sifat ini akan menghancurkan kita sendiri. Kita harus bisa menerima masukan dan menyaring apa yang baik kita simpan dan membuang apa yang buruk atau tidak baik. Kesakitan dalam proses dan progress adalah syarat kita menjadi penyair sejati, jangan mudah patah hati, sepahit apapun kritik adalah pupuk yang baik guna kesuburan dunia kata-kata. Dalam kancah kepenyairan nyata lebih kejam dan sengit lagi penyeleksiannya. Semua orang bisa menulis dan membaca tapi tidak semua orang bisa menjadi penyair atau pujangga. Kenyataan yang harus bisa kita terima.

Puisi ini baik sebagai pelajaran bagi yang bisa mengambil hikmahnya, singkat dan padat, punya alur dan gambar kreatifitas yang tinggi. Namun tidak ada gading yang tak retak, karena kepekatannya mungkin tidak semua mengerti, bahkan saya juga tidak mengerti sama sekali arah mana yang dituju. Punya alur namun alur yang diusung samar-samar sehingga kelihatan semua penuh ketegangan dari bait ke bait. Juga pemenggalan kata yang “semau gue”, membuat saya kebingungan membacanya sehingga yang ada dalam puisi ini adalah keangkuhan, namun memang berhasil “angkuh”-nya sebab judulnya ada “RAJA AROGAN”.

Akhir kata mari berjabat tangan menuju kancah kepenyairan yang sebenar.



luluk, 24 Agustus 2012