Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Desember 2018

Batu Kesetiaan


BATU KESETIAAN
Oleh: Luluk Andrayani





Dita, begitulah dia dipanggil. Kegemarannya adalah menghirup angin hutan. Hal ini sudah melekat dan  tidak bisa dihilangkan sedari di tanah air, bahkan telah menumbuhkan semacam candu. Makanya saat berada di Negeri Beton yang jarang ditemukan hutan alami, candu itu semakin menggila dan memberontak. Dan bila candu itu sudah memuncak, dia akan kebingungan mencari teman untuk diajak ke hutan buatan atau naik gunung.

Seperti halnya minggu ini, Dita menghubungi temantemannya untuk diajak refreshing bersama. Sesuai dengan perjanjian teman Dita, Nila, Rika dan Cahya, akan menemaninya pergi ke Lion Rock Country Park.

SMS terus terkirim dari handphone Dita untuk mengingatkan temantemannya agar tidak terlambat. Sebab selain jalan-jalan mengobati kecaduannya, Dita juga ingin barbeque  alias bakaran sebagai menu sarapan mereka. Oleh sebab itu harus cepat datang dan memilih tungku agar bertempat di papan yang strategis.

Meskipun cuaca Hong Kong dingin, kira-kira pukul 09.00 pagi, Dita telah sampai di halte bus Lion Rock Tunnel, dan seperti biasa, dialah yang datang paling awal. Sementara menunggu teman-temannya dia melihat-lihat keadaan sekitar.Sekitar seperempat jam menunggu akhirnya datang juga semua temannya.

“Tumben hari ini kalian datang tepat waktu,” suara cempreng setengah mencibir dari Dita membuka percakapan.

“Yey, kapan sih kita tidak tepat waktu?Kalau telat nanti kamu ngedumel terus dan itu bibirmu bisa dikucir, Dit!” balas Nila cepat disusul tawa yang meledak.

“Ah!” Dita mengelak. Kemudian mereka semua terdiam dan melangkah menuju taman dengan hatihati, takut terpeleset. Sebab tamannya di lereng Gunung Singa (Si Ci San) maka jalan setapak berupa tangga.

***

Dingin, bisik Dita dalam hati.Dalam kehidupan ini memang ada beraneka macam lakon yang tergelar, entah tentang suka atau duka.Semua telah tercatat rapi di buku kehidupan yang misteri.Begitu juga tentang dingin dan perjalanan ini.Sembari menapaki tangga pikiran Dita melayanglayang tak tentu.

Ya beginilah kehidupan, lagilagi tentang hidup, saya tak bisa berpaling dari kesunyian.Saya ingin membunuh sunyi yang bersarang begitu saja di hati ini tetapi tak berdaya, berkalikali kalimat itu menghantui Dita jika hatinya dilanda kegundahan.

Cuaca berkabut ditambah angin bertiup kencang membuatnya harus berkalikali menggosokgosok telapak tangan.Selain itu juga harus hatihati sebab monyet liar berkeliaran yang kadang mengganggu para pengunjung.Di samping jauh tangga yang dilalui, kelihatan ada pemandangan yang unik dan asyik, meski tertutup kabut tipis Dita yakin itu adalah bukit yang menghadap laut.Dan dia pun ingat disanalah tempat Amah Rock berada.Tanpa perintah langkah pun dipercepat.Di saat langkahnya melampaui kecepatan biasa, dia tersandung batu dan terjatuh.Sesaat dia terlena, suasana menjadi hening.Dia toleh kanan kiri, tetapi tidak ada orang yang menolongnya, padahal temantemannya tadi berjalan di belakangnya.

“Ah, kenapa kakiku ini, terkilir kah?” batin Dita. Lalu dia mencoba berdiri, tetapi kakinya seperti tidak punya tenaga untuk menopang tubuhnya.Lalu dia mencoba teriak untuk minta tolong, tetapi hanya suaranya saja yang didengarnya.Tidak ada siapapun.Dikarenakan dia tidak bisa berjalan akhirnya dia ngesot untuk menepi dari jalan.Seingatnya, tempat ini adalah lokasi Amah Rock atau dalam bahasa China adalah Mong Fu Shek.

Secara bahasa Mong Fu Shek (望夫石) dapat diartikan sebagai batu yang memandang kepulangan suami (mong ~memandang, melihat; fu ~suami; shek ~batu).Batu ini terbentuk alami terletak di puncak bukit di barat daya Sha Tin, Hong Kong, persisnya berada di dalam Lion Rock Country Park. Tinggi batu itu adalah sekitar 15 meter, dan  terlihat seperti wanita yang membawa bayi di punggungnya.  Jika sedang melewati Lion Rock Tunnel, maka batu itu berdiri tepat di atas pintu masuk dan  menghadap ke Laut Sha Tin.

Menurut legenda setempat, wanita itu adalah istri setia dari seorang nelayan yang setiap hari membawa anaknya naik ke bukit untuk melihat  kepulangan suaminya dari melaut. Tetapi  suaminya itu telah tenggelam di laut dan tidak diketahui oleh wanita itu. Atas kesetiaannya, dia diubah menjadi batu oleh Dewi Laut agar jiwanya bersatu dengan jiwa suaminya. Legenda ini  sangat terkenal  di Hong Kong bahkan China.

Tetapi kali ini Dita merasakan kelainan tempat itu, dia tidak menemukan batu yang dimaksud padahal dia yakin itu adalah tempat Amah Rock berdiri.Sebab perjalanannya tadi ingin melihat batu itu dari dekat.Lalu dia mengambil peta, sambil meringis kesakitan sebab kakinya terkilir dia mengamati peta itu.Tidak salah.Tetapi kemana batu itu pergi, pikir Dita,seharusnya berada tepat di sini.

Cuaca semakin dingin membuat Dita menggigil, dia berusaha menghubungi temantemannya sebab dalam pikirannya mungkin temantemannya tadi sengaja bersembunyi untuk menggodanya.Dia mengeluarkan HP, tetapi sialnya tidak ada sedikitpun jaringan.

“Ah, kenapa ini, signal pun tidak ada? “ gerutu Dita.

Perasaan Dita semakin tidak menentu, sebab sejak dari tadi tidak ada seorang pun yang bisa dia mintai tolong.Bukan tidak mau menolong, tetapi memang tidak ada orang yang lalu lalang seperti tadi.Bahkan suara gaduh kera dan belalang pun tidak ada.

“Dimanakah saya ini? Bukankah ini masih di Lion Rock? Tetapi keman para pengunjung yang tadi lalu lalang?”

Dita semakin cemas sebab kakinya kini bengkak dan membiru.Kini dia berteriakteriak minta tolong.

***

Seorang wanita berjalan tergesagesa menuju ke bukit.Dia menggendong seorang bocah, seperti tak sabar ingin sampai, dia pun berlarilari. Ketika hampir sampai bukit, dia melihat seseorang duduk  disana. Wanita itu sangat berhatihati dan memandang curiga.Namun begitu dekat dia langsung menghaturkan sembah sujud pada seseorang itu.

“Oh, Dewi!Engaukah itu?” sapa wanita itu penuh kegirangan.“Ampunilah hamba.Kabar apakah yang Dewi bawa pada hamba hari ini? Bagaimanakah suami hamba yang malang itu Dewi? Kapan dia dapat kembali kepada hamba dan anak hamba Dewi?Hamba merindukannya, Dewi.”

Wanita yang disebut Dewi itu terkejut, “Maaf, Siu Cie. Saya bukanlah seorang Dewi.Saya saya pengunjung yang datang kemari untuk rekreasi.”

“Dewi, jangan terlalu lama menghukum kami Dewi!Ampuni kami, kembalikan suami hamba Dewi!”

“Nama saya Dita bukan Dewi, Siu Cie! Saya tidak tahu apa yang Siu Cie maksudkan, siapa suami dan siapa Siu Cie , saya tidak kenal! Maaf Siu Cie.” Dita mencoba menjelaskan.“Saya datang kesini untuk beristirahat, sebab kaki saya terkilir waktu berjalan tadi.”

“Ah, Dewi, maafkan hamba yang tidak tahu, kaki Dewi mana yang terkilir biar hamba bantu Dewi.”

“Maaf Siu Cie, nama saya Dita bukan Dewi!”

“Hamba percaya, engkau adalah Dewi Laut yang menghukum suami hamba, dan Dewi berjanji untuk mengembalikannya hari ini.”

Dita semakin kebingungan menghadapi hal ini, pikirannya tidak tentu ketika wanita itu tersenyum kepadanya namun senyum itu getir.Ketakutanya bertambah ketika tangan dingin wanita itu menyentuh kulitnya untuk memijit kakinya yang terkilir.

“Sebenarnya apa yang terjadi Siu Cie? Saya betulbetul tidak tahu! Dan mengapa Siu Cie memanggil saya “Dewi” padahal saya bukan Dewi,” bantah Dita tegas.

Kemudian wanita muda itu menceritakan cerita yang sungguh membuat Dita seakan berhenti bernafas.Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“Dewi, mana suami hamba?” renggek wanita itu lagi, “Lihatlah anak ini Dewi, haruskah anak ini tumbuh tanpa melihat ayahnya?Apakah Dewi tidak merasa kasihan pada kami?”

Dita bertambah bingung dan ketakutan, kakinya semakin sakit pijitan wanita itu kuat sekali bahkan saking kuatnya kakinya seperti mau patah.Dita menjerit dan meronta namun wanita itu justru memperkuat pijatannya.Bukan kasihan yang ada di wajah wanita itu, hanya senyum getir dengan mata penuh permohonan.

“Kembalikan suami hamba, Dewi!Apa salah hamba sehingga hamba Dewi hukum seperti ini?” suaranya berubah menjadi keras dan tegas.“Kembalikan suami hamba!”

Dita meronta minta dilepaskan kakinya tetapi wanita itu tetap memijit dan semakin lama tanganitu membatu dan tidak bisa dilepaskan dari kaki Dita.Dita berteriak ketakutan sambil merontaronta.

“Lepaskan kaki saya, saya bukan Dewi!” teriak Dita mengangetkan seluruh teman yang mengerubunginya. Wajah mereka penuh tanda tanya di mata Dita yang mulai terbuka.



Ma On Shan, 03062013

Catatan:
1.      Legenda Amah Rock saya ambil dari buku Tour and Guide  Lion Rock Country Park English Version.
2.      Siu Cie adalah panggilan kepada wanita muda dalam bahasa Kantonis.


NB: pernah terbit di koran lokal berbahasa Indonesia di Hong Kong.

Selasa, 28 Mei 2013

TRAGEDI OKTOBER



TRAGEDI OKTOBER
Oleh: Luluk Andrayani



"Mak, aku mau pergi ke luar negeri cari uang." Kata itu terlempar begitu saja dari mulut Ratna suatu senja, kata itu juga yang membuat seluruh isi rumah kaget. Ibu dan suaminya hanya bisa saling pandang. Ibunya mencoba menasehatinya namun tidak bisa melunturkan niat yang telah bulat di hati Ratna. Suami dan anaknya pun tidak bisa lagi menghalanginya. Meskipun bisa dikatakan hidup mereka sudah cukup. Tapi entah apa yang bersarang di otak Ratna waktu itu.

Dengan berbekal sehelai harapan Ratna menyusuri lorong-lorong kehidupan yang keras. Negeri Beton, Hong Kong, adalah tujuannya. Setelah mengurus seluk-beluk persyaratan kerja di luar negeri, Ratna belajar memahami bahasa Kantonis sambil menunggu visa kerjanya jadi. Hari yang dinanti telah tiba, tepat mengawali bulan Oktober tahun 2010. Menggenapai pula umurnya menuju 25 tahun, Ratna meninggalkan kampung halaman juga negeri tumpah darahnya sendiri, serta orang-orang yang dicintainya.

Pada awal tiba di Hong Kong pola hidup Ratna biasa-biasa saja. Dandan juga biasa. Namun disebabkan orang China tidak bisa atau tidak fasih dalam melafadkan huruf "r", Ratna dipanggil Anna oleh majikannya, hanya ini yang berubah. Beruntunglah Ratna, sebab majikannya termasuk majikan yang baik, tidak terlalu cerewet dan dia berhak mendapatkan libur rutin Minggu dan libur umum. Dengan begitu Ratna bisa  berkenalan dengan  orang-orang yang bekerja menjadi buruh migran sepertinya. Salah satunya Mika, teman satu flat juga satu kampungnya. Awalnya Mika banyak membantu Ratna untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Pergi ke pasar atau liburan selalu bersama.

Ratna dan Mika sering bertukar pikiran jika ada masalah-masalah yang terjadi, baik itu masalah keluarga yang di kampung atau juga masalah dengan majikan. Namun, lambat laun perangai Ratna berubah, itu terjadi setelah Ratna berkenalan dengan lelaki Pakistan yang bernama Raj. Dia lupa segalanya. Bahkan anak dan kekuarga yang selalu merindukannya pun terlupakan.

Mika, sebagai teman yang telah lama dan tahu bagaimana kerasnya kehidupan buruh migran Hong Kong, mencoba untuk menyadarkan agar jangan sampai dia terjerumus ke dalam lingkaran hitam.

"Na, ingatlah tujuan kita semula ke sini. Jangan terpengaruh rayuan gombal lelaki brengsek di sini."

"Yang ini beda, Mbak Mika, dia baik kok. Lagian kita cuma berteman saja. Jadi tidak apa-apa kan?"

"Awalnya memang begitu, Ratna, kamu ini meskipun sudah punya anak, tapi tubuhmu masih membuat ngiler lelaki-lelaki kesepian seperti mereka. Apalagi wajahmu kamu lumayan cantik juga. Sayang kan kalau kamu dirusak oleh mereka. Ingat anak, ibu dan suamimu di kampung." Mika panjang lebar mencoba menasehati. Namun semua itu dimentahkan begitu saja oleh Ratna.

Hari Minggu yang cerah, Ratna berdandan super sexy dengan memakai rok mini yang panjangnya hanya menutupi paha atasnya dan sepatu hak 15 cm, dia berjalan gontai. Mika hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

“Hati-hati saja Ratna!” pesan Mika.

***

“Hei, Ratna, ngapain pagi-pagi sudah melamun di situ?” Tanya Mika. Ratna hanya diam, airmatanya meleleh. “Ehh… kok malah nangis di sini? Emang nggak keluar ama bojomu ya?”

Ratna hanya menggeleng. Merasa prihatin dengan teman satunya ini Mika hanya bisa duduk di sebelah Ratna tanpa banyak tanya lagi. Dia hanya menyodorkan satu pak tissue kepada Ratna. Tidak berselang lama tangis Ratna mereda.

“Mbak Mika aku harus bagaimana?”

“Ada apa sebenarnya? Apa Raj memutuskanmu. Lebih baik putus to, daripada diterusin kamu kan masih ada anak dan suami yang sah di rumah. Lagian ngapain kamu ngejar-ngejar orang yang tidak jelas asal-usulnya?”

“Bukan itu Mbak, dengan Raj aku sudah lama putus, tapi…” kali ini tangisnya semakin menjadi. Mika kebingungan mengapa Ratna sampai seperti itu. Mika tak kalah heran melihat perangai Ratna yang berubah menjadi cengeng, tidak seperti biasanya.

“Kenapa? Diinterminit ya?” yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Mika semakin kebingungan, interminit bukan, putus cinta bukan, lantas apa yang membuat Ratna menangis seperti ini.

***

Mak, aku pulang!” seru Ratna di depan pintu. Dia heran mengapa di rumahnya banyak sekali orang berdatangan. Tak seorang pun menyapanya. Ada hajat apakah di rumah? Anaknya masih berumur tujuh tahun, kalau mau dikhitan mengapa ibu atau suaminya  tidak mengirimkan SMS kepadanya? Pikirannya melayang-layang.

Tetapi alangkah terkejut, ketika Ratna melihat sesosok tubuh yang terbujur di ruang tamu. Dia mendekati ibunya dan bertanya. Namun ibunya hanya menangis, bahkan suaminya pun menangis. Mereka semua tidak menjawab.

Ketika kain penutup disibak, hatinya Ratna menjerit. Kepala mayat tersebut penuh jahitan, bahkan bisa dikatakan hancur hingga wajahnya tidak bisa dikenali. Siapakah dia pikir Ratna. Lalu dia mencoba mengingat-ingat. Namun Ratna hanya melihat wajah ibu dan suaminya yang penuh kepasrahan.

“Anakku, di mana anakku?” teriak Ratna histeris. Dia berlari-lari mencari anaknya, namun tidak di mana-mana tidak ada. “Nak, Ibu sudah pulang, Nak, kamu ada di mana? Jangan tinggalkan ibu, maafkan ibu, Nak!”

Ratna berlari dan terus berlari. Tubuhnya serasa ringan, seperti melayang-layang. Lalu dia tersungkur dan menemukan sebuah nisan yang terukir namanya.

Bruaakkkkkkkkkkkk!” suara bus menabrak sesuatu yang terjatuh dari jembatan penyebrangan di atas jalan itu. Semua di dalam bus orang terpekik kaget. Seorang wanita meloncat dari jembatan. Supir bus juga terkaget dan dia terlambat mengehentikan busnya, sehingga wanita itu terlindas ban setelah jatuh di jalan.

Sirine ambulan meraung-raung mengantar jasad wanita tersebut ke rumah sakit setempat. Nyawanya pun tak tertolong sebab kepalanya remuk terlindas bus. Di ujung lorong rumah sakit itu, seorang wanita duduk gemetaran. Wajahnya pucat pasi dan penuh tanda tanya, seakan dia tidak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya.

Are you her friend?” tanya seorang wanita yang berseragam polisi di rumah sakit tersebut.

“Yes, Miss!” jawabnya gemetaran.

"What is your name?"

"Mika."

“Okey, Mika, can you tell me, what happen before?”  polisi itu mulai mengintrogasi.

Mika dengan gemetaran menceritakan tentang kejadian hati itu waktu mau belanja ke pasar dan hal yang diketahuinya tentang Ratna sampai saat mereka berjalan di atas jembatan dan tanpa bisa dicegah Ratna berlari dan meloncat dari jembatan penyeberangan itu. Mika memang saksi utama yang menyaksikan dengan mata kepala bagaimana keadaan Ratna dari awal mereka bersama sampai Ratna mengakhiri hidupnya. Mika  jugalah mengurus keperluan Ratna sampai jasadnya dipulangkan.

Setelah hasil autopsy keluar, Mika terhenyak dan kaget bukan kepalang. Ternyata Ratna menyimpan rahasia, di dalam kandungannya ada anak yang berumur tiga bulan. Inikah sebab kamu mengakhiri hidup Ratna? Tapi tanggunganmu di akhirat lebih berat daripada tanggunganmu di dunia ini. Kamu belum bertaubat atas zina yang kamu lakukan, ditambah lagi mengambil paksa dua nyawa sekaligus, nyawamu dan nyawa anakmu yang tidak berdosa. Kalau kamu mendengar apa yang kunasihatkan kepadamu dulu…, ah… tapi kuasa dan kehendak Tuhan siapa yang bisa mengahalaninya?

Mika juga dimintai majikan Ratna untuk membereskan pakaian dan barang Ratna untuk dikirim pulang ke kampung. Tanpa sengaja Mika menemukan buku diary Ratna dalam tas Ratna yang dipakai hari libur kemarin dipakai bersamanya. Mika terhenyak seketika melihat deretan tulisan yang tertulis di atas buku itu pada bagian:

“MALAM LAKNAT, DUNIA SEAKAN KIAMAT
20 Juli 2012

Tadi malam, sehabis aku menyelesaikan pekerjaanku di dapur, seperti biasa aku selalu menanyai majikanku yang perempuan apakah dia perlu sesuatu atau perlu ke toilet. Sebab dia tidak bisa berjalan sendiri. Tubuhnya mati sebelah tanpa sebab sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi dia bilang dia tidak perlu apa-apa. Majikanku yang laki-laki belum pulang, aku terpaksa menunggunya sampai dia pulang. Jam dinding telah menunjukkan pukul 12.00 malam. Tiba-tiba bel berbunyi. Itu pasti majikanku, memang benar. Sialnya majikanku dalam keadaan mabuk berat. Tanpa ba bi bu dia menyeruduk ke dalam rumah dan memelukku dengan erat. Aku meronta sekuat tenaga namun tidak mampu, cengkeraman tangan majikanku lebih kuat. Tidak ada sesiapapun yang menolongku. Lalu dengan paksa dia melucuti pakaianku. Tanganku menggapai-gapai untuk mencari benda yang bisa aku buat memukulnya namun tidak ada. Dan terjadilah hal yang tidak aku inginkan. Majikanku perempuan mendengarnya namun dia tidak bisa apa-apa.

21 Juli 2012
Sudah dua hari ini aku tidak bekerja. Seluruh tubuhku seakan rontok, hatiku hancur. Kesucianku ternodai. Aku bukan pelacur.

Kemarin majikanku merenggek-renggek dia akan memberikan apapun dan berapapun yang kuminta kepadanya sebagai permintamaafan atas kejadian malam kemarin. Tapi dengan syarat aku harus menyelesaikan kontrak kerja dan tidak boleh menceritakan aib itu kepada orang lain. Ya hari ini aku mendapatkan uang HKD 100000 cash, sebagai uang penutup mulut. Aku terima dengan tanda tangan di atas materai yang disaksikan kuasa hukum setempat  dengan jaminan menutup rahasia itu. Sebab majikanku melakukan dengan tidak sengaja dan dalam keadaan tidak sadar. Sejak hari ini kehidupanku berubah total serba mewah. Gajiku pun naik menjadi HKD 5500 per bulan. Ya hanya sebatas itu yang bisa aku lakukan.

……

01 Oktober 2012
Hari ini adalah ulang tahunku yang keduapuluh tujuh. Aku mendapatkan hadiah yang sungguh tak terduga,  aku tidak menstruasi. Sebulan dua bulan kupikir kalau hanya telat biasa, sebab semenjak di Hong Kong saya jarang menstruasi. Tapi menginjak bulan ketiga hal ini sungguh mengejutkan aku merasa mual-mual setiap pagi, membau amis ikan selalu muntah padahal dulu tidak. Tuhan ada apa denganku? Bagaikan disambar petir. Dunia seakan berakhir. Padahal dulu dokter sudah memastikan bahwa tidak akan hamil dengan pembersihan rahim, tapi Tuhan berkehendak lain. Aku positif hamil bahkan telah berumur tiga bulan. Bagaimana ini? Dunia berputar-putar di hadapanku. Segala kecamuk bertabrakan di kepala. Apa yang harus aku lakukan?

……

Inikah Ratna yang kukenal itu? pekik Mika dalam hati. Aku sebagai sahabat selalu berprasangka buruk dengan kelakuanmu. Tapi hidup ini ternyata lebih rumit dari yang kubayangkan. Oktober tahun ini adalah ulang tahun Ratna sekaligus bulan yang penutup kehidupannya.


[MOS19102012LA]

Minggu, 30 September 2012

[CERPEN] ANAKKU


ANAKKU


"Mama, Papa dimana Ma? Kenapa Asma tidak punya papa, Ma?" tanya gadis kecil yang baru berumur tiga tahun suatu senja pada Dara.

Dara tersentak dari lamunananya, apa yang harus aku katakan? Kalimat apa yang harus kurangkai agar anak ini mengerti? Aku tahu hal ini pasti terjadi, namun ini terlalu cepat namun ini terlalu cepat dari yang kuperkirakan. Aku belum menyiapkan kata yang tepat.

"Mama, kok diam?" suaranya kembali memecah lamunan Dara. "Mama aku juga ingin seperti teman yang di ujung itu," kata Asma lagi sambil menunjuk keluarga kecil yang jalan-jalan juga di taman itu.

Dara hanya diam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sedang,dia alami selama ini. Ada kebahagian sekaligus bencana dalam hidupnya. Kejadian ini sungguh di luar skenario yang dia ingin tulis selama ini.

Di kampungnya, Dara adalah bunga desa, hidup sederhana sebagai seorang bidan muda yang baru menyelesaikan pendidikannya. Karena di puskesmas desanya belum ada bidan yang menggantikan bidan yang sebelumnya, maka dengan mudah dia mendapatkan kerja itu.

Meskipun dibilang dia sudah mapan, namun jika ditanya masalah pasangan hidup dia akan menjawab dengan senyuman dan kata yang sama, aku sedang menunggu seseorang yang telah mengikat janji denganku.

Namun takdir berkata lain, selama ini dia hanya menanti kekosongan. Keyakinannya mulai berkurang ketika Arya, seseorang yang ditunggunya itu tidak pernah menghubunginya. Dara hanya berharap dan janji adalah janji yang harus  ditepati sebab janji adalah hutang yang harus dibayar. Dara tidak mau nmengigkarinya dan dia hanya berpikir mungkin kekasihnya itu sibuk dengan pekerjaannya.

Hingga suatu senja yang muram sebab hujan tak berhenti dari pagi, Dara menerima sebuah telepon dari nomor yang tidak dia kenal namun setelah dia angkat dia tahu betul siapa yang meneleponnya itu. Yang tak lain adalah Arya, kekasihnya yang dia tunggu selama ini.

“Maafkan aku Dara…”

“Tidak apa-apa aku mengerti kok, kamu pasti sibuk Mas Arya, sebab kerjamu sekarang di rumah sakit besar ibukota.”

“Bukan itu yang kumaksud, Dara.”

“Lalu kapan kamu ke sini Mas Arya?”

“Dara aku minta maaf, tentang janji kita…”

“Iya saya mengerti, tapi pulanglah dulu Mas!” suara Dara penuh harap dan haru.

“Bukan itu yang kumaksud Dara, tolong dengarkan dulu penjelasan saya.” Suasana menjadi hening, Dara dan Arya sama-sama diam. “Dara aku terpaksa tidak bisa menepati janji setia kita.”

Dara terdiam, benarkah apa yang dia dengar itu,”Kapan Mas Arya pulang?” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Dara aku benar-benar minta maaf, Dara. Tolong jangan menantiku lagi. Dan berbahagialah kamu.”

Senja yang hujan, senja yang berkabung, membanjir airmata dan bah bersamaan. Dara melarikan segala kenangannya hari itu juga. Tiada siapa yang tahu, tiada siapa yang mengerti rasanya saat itu. Dia masih belum percaya tentang apa yang didengarnya. Da masih menumpukan harapnya pada kekosongan.

Ambulance baru saja tiba di puskesmas tersebut, mengangkut dua tubuh yang bersimbah darah. Dara mematung bisu, menghadapi salah satu pasien dari ambulance tersebut, seorang wanita muda sedang hamil tua dengan darah bersimbah di sana sini. Wanita itu masih setengah sadar dan mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.

“Tolong selamatkan anak saya… tolong!” suaranya terbata dan memandang penuh harap terhadap Dara.

Belum pernah Dara menghadapi situasi yang seperti ini, namun Dara harus menyelamatkan dua nyawa sebisa mungkin, dia pun secepat kilat beraksi sambil membersihkan darah yang bersimbah di kepala wanita tersebut. Dia harus membantu persalinan darurat ini. Lalu dia pun mengisyaratkan perintah-perintah kepada wanita itu, namun keadaan wanita itu terlalu lemah sehingga keadaan semakin memburuk.

“ Tolong selamatkan anakku dan berjanjilah untuk mengasuhya kelak, Mbak.” Kata itu terbata lirih dari suara wanita itu disaksikan beberapa perawat pembantu Dara.

“Ya, Mbak, tapi Mbak harus kuat dulu.”

Dengan mengerahkan sekuat tenaga terakhirnya, wanita itu akhirnya bisa melahirkan anaknya, namun kebahagiaan itu justru akhir dari hidup wanita itu. Tangis bayi itu adalah tangis kepedihan kehilangan seorang ibu. Bayi itu sudah dicap sebagai anak piatu. Dan Dara baru sadar bahwa janjinya adalah janji yang harus ditepati.

Sementara di ruangan lain, seorang laki-laki berusaha berjuang melawan malaikat yang ingin menjemput nyawanya. Dialah bapak dari anak yang baru lahir tersebut. Sebab mereka adalah sepasang suami istri yang berkunjung ke desa tersebut. Alangkah terkejutnya Dara, setelah tahu bahwa lelaki tersebut adalah kekasihnya, Arya.

Lelaki tersebut sadar namun luka parah di kepalanya tidak bisa menjamin untuk hidupnya, ketika dara mendekatinya dan menyorongkan bayinya. Arya hanya tersenyum tipis.

Dara menghela nafas, ketika tangan mungil mengentuh pipinya. Lembut tangan itu menerbangkan lamunannya.

“Mama, papa dimana, Ma?” tanyanya kembali berulang.

“Asma…” suara Dara tersendat. “Asma harus belajar dan jadi anak yang pandai agar kelak kalau papa pulang, papa bangga terhadap Asma.”

Kata itulah yang Dara ucapkan, benarkah kalimat ini? Sedangkan pada kenyataannya ayah dan ibunya tidak mungkin lagi kembali ke dunia ini. Mungkin mereka telah bahagia di alam sana.

Dara tidak merasa terbebani dengan semua kecelakaan ini, sebab dia harus membesarkan anak dari orang yang dia cintai. Dan dia tahu bahwa semua ini sudah diatur oleh-Nya. Dia juga teringat cerita terakhir dari almarhum Arya, bahwa pernikahan mereka tidak direstui oleh kedua belah pihak, namun karena kecelakaan—istri Arya hamil duluan, mereka menikah siri dan Arya mengkhianatinya.

Asma telah resmi menjadi anak angkat Dara, sejak anak itu baru lahir, namun Dara tidak tahu harus bagaimana meghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi esok hari, dia hanya bisa berserah.